Jateng Today
Bedah Babad Diponegoro dan Macapat di Dies Natalis Undip ke-60

Bedah Babad Diponegoro dan Macapat di Dies Natalis Undip ke-60

JATENGSATU, UNDIP — Dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro (Undip) ke-60 telah digelar Macapatan dan Bedah Diponegoro di Hal SA-MWA Universitas Diponegoro Tembalang, Kamis (26/10) malam.

Tujuannya agar masyarakat tidak melupakan akar budaya dan nilai nilai luhur yang melekat pada sosok pahlawan nasional Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan nasional, sudah sepantasnya harus selalu menjaga nilai-nilai peduli, jujur, adil dan berani sebagai sikap yang melekat pada diri pahlawan nasional itu.

“Saya berharap semua civitas akademika Undip, harus menjaga dan meneladani sikap-sikap luhur Pangeran Diponegoro, yang pada muaranya nanti mampu menjaga kebhinekaan dan Pancasila,” kata Rektor Undip, Prof Yos Johan Utama.

Menurut Prof Yos, acara yang menjadi bagian dari kegiatan Dies Natalis Undip ke-60 ini dimaksudkan untuk mengenang, menghormati, dan meneladani nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Bentuk kegiatan ini, lanjut dia,  disajikan melalui cuplikan tembang-tembang macapat yang menggambarkan fragmen riwayat hidup sang Pangeran, yang materinya bersumber dari naskah otobiografi Babad Diponegoro yang ditulisnya selama dalam pengasingan di Manado.

Suasana pagelaran nampak hening dan magis, ketika para penembang melantunkan tembang-tembang macapat. Para penembang selain para profesor, dosen dan melibatkan mahasiswa Undip, juga tampak Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Dr Ir Sri Puryono MP turut dengan khidmat melantunkan bait-bait cuplikan tembang-tembang macapat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan bedah naskah otobiografi Babad Diponegoro yang dipandu oleh Dhanang Respati Puguh, dosen Fakultas Ilmu Budaya yang juga putra dalang kondang alm Ki Narto Sabdo.

Tampil sebagai narasumber yakni Prof Dr Peter Carey, sejarawan Inggris yang melakukan penelitian ekstensif tentang Perang Diponegorodan Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, tokoh yang telah memperjuangkan Babad Diponegoro sebagai Ingatan Kolektif Dunia (Memory of the World, UNESCO).

Wardiman mengaku prihatin buku-buku sejarah kepahlawanan Diponegoro yang diajarkan di sekolah banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan, karena mengacu pada sumber tidak benar yang ditulis oleh penjajah saat itu.

Oleh karenanya, dia sangat antusias menyambut kegiatan tembang mocopat ini karena dapat sebagai salah satu upaya untuk meluruskan isi sejarah.

“Yang paling penting kita harus mewariskan nilai nilai luhur dan agung dari sang pangeran dalam pendidikan karakter anak bangsa,” tandas mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1993-1998 itu mengakhiri ulasannya dalam bedah babad Diponegoro. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*