Jateng Today
Makam Klampisan Purwoyoso Ngaliyan Riwayatmu Kini

Makam Klampisan Purwoyoso Ngaliyan Riwayatmu Kini

JATENGSATU.COM  – Makam Klampisan bagi warga Ngaliyan khususnya warga Purwoyoso, Karonsih dan sekitarnya bukan asing lagi.

Makam tersebut telah terdampak Jalan Tol Batang – Semarang sehingga harus direlokasi. Proses relokasi makam di seksi 5 di Kota Semarang telah dilakukan.

Beragam kisah ditemukan saat proses penggalian dan pemindahan itu.

Mereka mengaku menemukan gigi emas hingga tulang jenazah yang masih utuh terbungkus kain kafan.

“Saya kemarin dapat gigi emas. Lalu saya serahkan ke koordinator penggali kubur.

Kain Kafan Utuh
Kain Kafan Utuh (Instagram)

Saya tidak berani mengambil barang tersebut, takut kualat,” ujar salah satu penggali kubur, Nasokah, saat ditemui di lokasi makam, Senin (20/8/2018) kemarin.

Selain temuan gigi emas, para penggali kubur juga menemukan benda-benda lain di seputar makam.

Selain itu, mereka juga menemukan sejumlah tulang jenazah yang masih utuh tersimpan di dalam kain kafan.

Relokasi pemindahan makam ditarget selesai dalam 30 hari kerja atau sebulan.

Relokasi makam sendiri dikerjakan sejak Rabu (15/8/2018) lalu.

Paguyuban Ngarso melakukan pembongkaran makam yang berada di tengah jalan tol Semarang-Batang tepatnya di Klampisan, Jalan Honggowongso, Ngaliyan.
Paguyuban Ngarso melakukan pembongkaran makam yang berada di tengah jalan tol Semarang-Batang tepatnya di Klampisan, Jalan Honggowongso, Ngaliyan. (Tribunjateng.com/M Zaenal Arifin)

Koordinator Penataan dan Pemindahan relokasi makam jalan tol Batang-Semarang, Suyono menjelaskan, temuan barang-barang saat pemindahan makam bukan hal yang baru.

Dimungkinkan masih banyak barang yang tertinggal di area makam yang berusia sekitar 300 tahun itu.

Selain temuan barang, pihaknya juga mengaku menemukan 5 jenazah di mana kain kafannya masih utuh.

Padahal, kata dia, mereka sudah dimakamkan sejak tiga sampai 5 tahun terakhir.

Di area makam lama, setidaknya ada 1.100 hingga 1.200 jenazah yang dimakamkan di area seluas 5.300 meter persegi itu.

Sebagian besar dari jenazah itu memiliki ahli waris. Mereka mayoritas tinggal di Klampisan dan kampung tetangga.

Untuk proses pemindahan, pihak paguyuban makam menerjunkan puluhan pekerja.

Tim Deteksi Makam Klampisan menyatakan, ada lima makam ulama penyebar agama Islam di makam terdampak tol Semarang-Batang itu. Namun, kebenaran keberadaan makam kelima ulama ini belum bisa dibuktikan lantaran metode yang digunakan.

Hal ini diungkapkan Sutikno, warga Klampisan yang mendapat informasi dari Tim Deteksi Makam Klampisan. Lima ulama itu, dikatakan Sutikno, terdiri dari satu guru dan empat murid.

Menurut Sutikno, ulama yang dianggap sebagai guru yaitu Syech Abdul Hamid bin Sulaiman Al-Maghribi dari Maroko.

Sedangkan dua dari empat muridnya yaitu sesepuh Desa Klampisan Eyang Klampisan dan Simbah Turiyah.

“Ada lima makam sesepuh yang juga ulama di sini (makam Klampisan–red). Itu berdasarkan dari hasil deteksi tim yang melakukan pemindahan makam,” ungkap Sutikno, Jumat (17/8).

Sutikno mengatakan, sepengetahuannya, tim pendeteksi yang dipimpin Joko, menggunakan metode metafisika.

Selain makam kelima ulama sesepuh Klampisan tersebut, tim deteksi makam juga menemukan sekitar 150 makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya.

Sumber: Tribun Jateng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*