Jateng Today
Sang Alif  Kartono: Orang Pertama Kuliah di Eropa, Paham 27 Bahasa Asing
Kakak Kartini

Sang Alif Kartono: Orang Pertama Kuliah di Eropa, Paham 27 Bahasa Asing

JATENGSATU.COM — Tanggal 21 April 2021, Seluruh anak Negeri dan Bangsa telah memperingati Hari Kartini yang biasa diperingati. Banyak jargon, literasi, ide-ide dan gagasan muncul yang dihubungkan dengan Kartini.

Akan sangat banyak di Negeri ini khususnya perempuan yang mengenal Kartini karena diperingati setiap tahun.

Tapi apakah anda kenal Kartono? Kakak Kartini yang banyak memberikan inspirasi RA Kartini

Kartono lahir dan memiliki nama lengkapnya RM Panji Sosrokartono pada tahun 1877.

Dia adalah kakak kandung RA Kartini.

Kartono disebut-sebut sebagai Pribumi  pertama yang keluar di luar Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1898.

Karena kecerdasannya beliau menjadi kesayangan para dosennya. Kakak kandung Kartini terkenal bisa menguasai 27 bahasa asing dan 10 bahasa nusantara. Tak heran dirinya terkenal jenius.

Pangeran ganteng ini juga sangat pandai bergaul, anak orang kaya, terkenal dan merakyat.

Banyak perempuan Eropa menyebutnya “De Mooie Sos.” (artinya Sos yang ganteng).

Orang Eropa dan Amerika menyebut RM Panji Sosrokartono dengan hormat ‘De Javanese Prins’ (Pangeran Jawa) “Si Jenius dari Timur” akan tetapi sesama pribumi memanggilnya Kartono saja.

Sepak terjang Pangeran Jawa ini juga luar biasa.

Pada tahun 1917 Ia menjadi wartawan Perang Dunia I untuk sebuah koran terkenal Amerika ‘The New York Herald’ biro Eropa.

Sosrokartono dalam pakaian Eropa

Keahliannya dalam menguasai berbagai bahasa membuatnya sanggup menterjemahkan sebuah artikel bahasa Perancis sejumlah 30 kata ke dalam 4 bahasa, Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis.

Sebagai wartawan perang, Kartono diberi pangkat Mayor oleh Sekutu tapi menolak membawa senjata, beliau berkata:

“Saya tidak menyerang orang, oleh karena itu saya pun tidak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata ?”

Kalimat ini membuatnya terkenal sebagai ‘ahli diplomasi’ yang hebat.

Nama Kartono sempatkan gemparkan Eropa dan America dengan artikelnya tentang perundingan Jerman dan Perancis yang rahasia serta sangat tertutup yang diselenggarakan di dalam salah satu gerbong kereta api yang berhenti di tengah hutan.

Bahkan mendapat penjagaan yang super ketat dari semua wartawan yang sedang mencari informasi dan berita. Ternyata koran ‘New York Herald’ telah memuat hasil perundingan tersebut. Beritanya membuat gempar!

Keahlian dalam menguasi berbagai bahasa membuatnya menjadi penterjemah tunggal di Liga Bangsa Bangsa 1919 yang sejak 1921 diubah menjadi PBB.

Dirinya dipercaya sebagai ketua penterjemah utk segala bahasa. Konon mengalahkan para poliglot Eropa dan Amerika.

Pada 1925 Pangeran Jawa ini pulang ke tanah air. Ki Hajar Dewantara mengangkatnya sebagai kepala sekolah menengah di Bandung

Sesuatu yang aneh tapi nyata yaitu ketika dirinya dianggap bisa menyembuhkan banyak orang sakit. Bahkan orang asingpun ikutan antri untuk minta doa dan air menyembuhan darinya.

Hal ini dikarenakan kabarnya karena Kartono pernah sembuhkan seorang anak Eropa hanya dengan sentuhan-sentuhan dihadapan para dokter yang sudah angkat tangan untuk berusaha menyembuhkan penyakit si anak tersebut.

Soekarno muda sering berdiskusi dengannya. Bung Hatta sebut beliau orang jenius.

Di rumahnya berkibar bendera merah putih dan anehnya Belanda, Jepang dan Sekutu seolah tak peduli .

Pada 8 Februari 1952 Kartono wafat di usianya ke 74 tahun di Bandung dan dikebumikan di makam Sido Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah di samping makam kedua orang tuanya Nyai Ngasirah dan RMA Sosroningrat.

Kakak Kartini ini wafat setelah berjuang dari penyakitnya yang membuatnya lumpuh.

Beliau meninggal dalam kondisi tidak punya apa-apa.

Rumahnya pun hanya menyewa padahal sebagai putera bangsawan dan cendekiawan ia bisa hidup mewah .

Makam Kartono/Antara News

Orang-orang tidak temukan pusaka dan jimat di rumahnya. Hartanya hanya selembar kain bersulam huruf ALIF

Pada batu nisan makamnya tertulis : ‘Sugih Tanpa Bondho. Digdaya Tanpa Aji

Beliau dikenang sebagai seorang wartawan hebat walaupun PWI tidak pernah singgung namanya.

Beliau adalah seorang tokoh pendidikan tapi banyak para guru tidak tahu siapa dirinya.

‘Sang Alif ….

Alif sak jeroning Alif …’

Sumber : suratdunia.com