Jateng Today
Kisah Lengkap Kedung Ombo : Dari Kerajaan Gaib hingga Penggusuran Warga
Waduk Kedung Ombo

Kisah Lengkap Kedung Ombo : Dari Kerajaan Gaib hingga Penggusuran Warga

JATENGSATU.COM — KISAH kelam dari kejadian Perahu Terbalik di Kedung Ombo Boyolali telah mengingatkan kita sejarah kelam asal mula pembangunan Waduk Kedung Ombo.

Kemarin perahu yang dinaiki belasan wisatawan di Wadung Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021) lalu.

Ingatan kita pada zaman Orde Baru, presiden Soeharto tentang konflik agraria yang terjadi di Kedung Ombo menjadi salah satu deretan konflik yang terjadi selama rezim Orde Baru berkuasa.

Penduduk yang menjadi korban penggusuran dan tidak memperoleh ganti rugi sebagaimana yang seharusnya. Ketika mereka menolak ganti rugi, strategi represif diterapkan.

Darei penduduk yang menolak dicap sebagai eks tahanan politik kasus PKI dan anak-anak mereka diancam akan memperoleh tindakan yang sama.

Tidak hanya itu, rezim zaman itu memaksa warga meninggalkan kampung halamannya. Kebijakan yang otoriter tersebut akhirnya menyisakan duka, warga yang direlokasi ke pulau-pulau luar Jawa hidup di tengah kemiskinan, begitu pula warga yang masih bersikeras hidup di sekitar waduk.

Tragedi perahu terbalik di Waduk Kedung Ombo, Boyolali, Jawa Tengah, menewaskan sebagian penumpangnya dan lebih mencengangkan nakhoda perahu yang diketahui berusia 13 tahun.

“Nakhoda perahu atas nama inisial GH berusia 13 tahun,” kata Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond saat meninjau evakuasi di waduk yang berada di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali Sabtu (15/5/2021).

Saat kejadian itu, GH hendak mengantar 20 orang penumpangnya menuju warung makan apung yang berjarak 50 meter dari daratan.

Sekira pukul 11.00 WIB, perahu sudah mendekati warung makan apung namun ada seorang penumpang yang tiba-tiba berjalan ke geladak depan.

“Ada penumpang yang mau foto selfie di bagian geladak depan, sehingga perahu oleng ke kanan dan terbalik,” ucap Morry.

Nahas, saat kejadian itu, Morry mengungkapkan alat keselamatan belum terpasang di tubuh para penumpang.

“Setiap operator sebenarnya harus memiliki pelampung. Saat kejadian tidak menggunakan alat keselamatan,” ungkapnya.

Rekaman video detik-detik terbaliknya perahu dan belasan penumpangnya minta tolong viral, Sabtu (15/5/2021).

Tampak sejumlah penumpang di perahu yang terbalik itu berusaha berenang dan berpegangan pada badan perahu yang terbalik.

Waktu awal kuliah demo Kedung Ombo sangat terasa di telinga. Kasus Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi permukiman oleh warga karena tanahnya akan dijadikan Waduk Kedungombo. Penolakan warga ini diakibatkan kecilnya jumlah ganti rugi yang diberikan.

Konon seperti dilansir wikipedia, pada tahun 1985 pemerintah merencanakan membangun waduk baru di Jawa Tengah untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektare sawah disekitarnya.

Waduk ini dinamakan Waduk Kedung Ombo. Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.

Waduk mulai diairi pada 14 Januari 1989. Menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan.
Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya akibat pembangunan waduk ini.

Ketika sebagian besar warga sudah meninggalkan desanya, masih tersisa 600 keluarga yang masih bertahan karena ganti rugi yang mereka terima sangat kecil.

Mendagri Soeparjo Rustam menyatakan ganti rugi Rp 3.000,-/m², sementara warga dipaksa menerima Rp 250,-/m². Warga yang bertahan juga mengalami teror, intimidasi dan kekerasan fisik akibat perlawanan mereka terhadap proyek tersebut.

Pemerintah memaksa warga pindah dengan tetap mengairi lokasi tersebut, akibatnya warga yang bertahan kemudian terpaksa tinggal di tengah-tengah genangan air.

Dulu Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja’far, pengasuh pondok pesantren Pebelan Magelang mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau.

Waduk ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto, tanggal 18 Mei 1991, dan warga tetap berjuang menuntut haknya atas ganti rugi tanah yang layak.

Tahun 2001, warga yang tergusur tersebut menuntut Gubernur Jawa Tengah untuk membuka kembali kasus Kedung Ombo dan melakukan negosiasi ulang untuk ganti-rugi tanah.

Akan tetapi, Pemda Provinsi dan Kabupaten bersikeras bahwa masalah ganti rugi tanah sudah selesai. Pemerintah telah meminta pengadilan negeri setempat untuk menahan uang ganti rugi yang belum dibayarkan kepada 662 keluarga penuntut.

Waduk Kedung Ombo merupakan salah satu waduk yang berada di Indonesia. Lokasi waduk ini berada di tiga kabupaten sekaligus yaitu Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali.

Kini bangunan utama bendungan itu berada di perbatasan Desa Rambat dan Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Dilansir dari Grobogan.go.id, Waduk Kedung Ombo menjadi lokasi wisata yang menyuguhkan pemandangan indah.

Selain itu, tempat wisata itu menyediakan jasa perahu motor bagi pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Namun di balik keindahannya, pembangunan waduk ini menyimpan ‘kisah tragis’

Waduk Kedung Ombo dibangun pada tahun 1980 dan selesai pada 1991. Pembangunan waduk itu membutuhkan dana yang besar dan kemudian dibiayai oleh Bank Dunia (USD 156 juta), Bank Exim Jepang (USD 25,2 juta), dan APBN.

Setelah selesai dibangun, waduk ini mulai diairi pada 14 Januari 1989. Pada akhirnya, waduk ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 18 Mei 1991.

Jadi Kawasan Obyek Wisata

Setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto, kawasan Waduk Kedung Ombo berkembang menjadi obyek wisata. Di kawasan itu kemudian dibangun banyak homestay yang menyatu dengan rumah penduduk. Dengan begitu para wisatawan dapat tinggal lebih lama di kawasan Waduk Kedung Ombo.

Dilansir dari Grobogan.go.id, adanya homestay itu membuat para wisatawan dapat melihat dari dekat kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahkan mereka juga dapat menjalani kehidupan seperti penduduk lokal.

Kawasan Usaha Agrobisnis

Selain sektor pariwisata, kawasan itu juga berkembang menjadi kawasan agrobisnis. Di sana para warga mengembangkan usaha perikanan darat dengan metode keramba. Selain itu, di tepi waduk para warga mengembangkan usaha pertanian buah-buahan dan sayur mayur.

Dari hasil perikanan di sana, para warga membuka bisnis pemancingan dan warung makan yang menjajakan olahan makanan berbahan dasar ikan seperti ikan bakar atau ikan goreng yang mengundang selera para wisatawan.

Tragedi Air Beracun

Pada 2019, terjadi tragedi air beracun yang membuat puluhan ton ikan milik petani keramba di Kedung Ombo mati mendadak. Para petani menyebut fenomena aneh itu dengan istilah “upwelling”. Dilansir dari Merdeka.com, upwelling adalah fenomena perubahan suhu yang terjadi secara cepat di bawah air.

Menurut Sajimin, salah satu petani keramba Kedung Ombo, fenomena itu terjadi saat air dari dasar waduk yang berwarna putih tiba-tiba naik ke permukaan. Air itu membawa bakteri dan limbah pakan ikan yang ada di dasar ikut naik ke permukaan. Saat itulah ikan milik petani tiba-tiba mati teracuni.

Kisah Mistis

Namun, segala sesuatu di Negeri ini tanpa dikaitkan dengan dunia mistis terasa kurang afdol. Konon ada Kerajaan gaib Waduk Kedung Ombo ini dan tak asing lagi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar waduk.

Konon katanya kerap dijadikan tempat pembuangan makhluk halus, seperti dilansir Solopos.com bahwa pengelola akun Instagram @misterisolo, Sabtu (24/10/2020), beraneka macam makhluk halus kerap bergentayangan di lokasi waduk seluas 6.576 hektar ini.

“Waduk yang luas ini ternyata menjadi salah satu tempat favorit untuk membuang makhluk halus. Ada yang berupa jin pesugihan, jin gentayangan meresahkan warga, sampai khodam dari benda pusaka,” ungkap pengelola akun Instagram @misterisolo.

Konon ceritanya, waduk ini dijaga oleh makhluk seperti buto dengan muka merah yang mengenakan pakaian kerajaan. Sayangnya, makhluk ini kerap meminta tumbal dengan cara menyeret korban ke dasar waduk yang disebut-sebut terdapat sebuah kerajaan gaib.

Kerajaan gaib di dasar Waduk Kedung Ombo inilah yang menurut cerita yang beredar dipimpin oleh ratu. Dia dikenal sebagai sosok yang menjaga adab dan sopan santun.

Balasan Pelaku Mesum di Kedung Ombo

Dari informasi yang diperoleh dari @misterisolo pula, pengunjung yang mempunyai niat mesum justru dipermudah oleh penunggu waduk.

“Tempat yang tiba-tiba sepi dan suasana yang tiba-tiba menggoda menjadi sambutan hangat dari lelembut kepada oknum-oknum [yang ingin mesum] tersebut,” ungkap dia.

Meskipun dipermudah, ternyata makhluk halus Waduk Kedung Ombo tersebut justru akan mengikuti oknum mesum hingga tiba di rumahnya.

Hal tersebut yang akan membuat suasana rumah dan lingkungan sekitar menjadi panas dan tak nyaman. Berbagai macam kejadian di luar nalar pun terjadi.

Bahkan, kata pengelola akun @misterisolo, rezeki pun akan berpengaruh alias terhambat karena kehadiran makhluk halus tersebut.

“Jin yang kehilangan rumah ini akan mengikuti sang korban sampai ke rumahnya. Sehingga suasana sekitar menjadi panas dan tidak nyaman, pikiran menjadi kacau, dan rejeki tiba-tiba terhambat. Maka dari itu, beberapa kasus oknum mesum di tempat ini akan mengalami kehidupan yang tidak cemerlang atau malah justru mengarah ke depresi,” tutup dia. (Dari Berbagai Sumber)