Tuesday , 11 June 2024
Jateng Today
Asal Usul Berdirinya Kabupaten Pati (Babat Pati): Yuyu Rumpung Krodha
keris Rambut Pinutung dengan Kuluk Kanigoro

Asal Usul Berdirinya Kabupaten Pati (Babat Pati): Yuyu Rumpung Krodha

JATENGSATU.COM — PADA zaman dulu di Kadipaten Paranggaruda saat ada hajatan untuk mengawinkan putera
satu-satunya yang bernama Raden Jaseri atau lebih terkenal dengan sebutan Menak Jasari
dengan putri Adipati Carangsoko bernama Dewi Ruyung Wulan.

Menak Jasari adalah seorang pemuda yang fisiknya cacat, dan berwajah jelek sehingga membuat
Dewi Ruyung Wulan menolak untuk dijodohkan. Namun karena paksaan orang tua maka mau
tidak mau Dewi Ruyung Wulan harus menerima Raden Jaseri sebagai suaminya.

Pesta perkawinannya pun berlangsung, tapi Dewi Ruyung Wulan terus bersedih dan meminta
pestanya dengan pagelaran wayang yang dimeriahkan wayang purwo (wayang kulit) dengan
dalang Ki Soponyono yang sangat terkenal sebagai dalang yang mampu membawakan beberapa
karakter tokoh yang ada dalam cerita Mahabarata dan Ramayana sehingga banyak penonton
yang terbius seolah cerita itu tersebut.

Sebenarnya Ki Dalang Sapanyono kebingungan atas permintaan yang diajukan oleh Dewi
Ruyung Wulan, namun Hal ini hanyalah merupakan taktik dari Dewi untuk mengulur-ulur
pernikahan. Tujuannya hanya satu yaitu pernikahaannya gagal karena dirinya tidak mencintai
R. Jasari calon suaminnya. Baginya, pernikahan yang tidak dilandasi cinta akan menyakitkan dan
dapat melemahkan semangat untuk hidup berumah tangga.

Ia berpesan kepada Dalang Saponyono untuk mencari cerita pewayangan yang mirip dengan
cerita kisah sedihnya. Biar semua orang tahu rintihan hati Dewi Ruyung Wulan. Ki Dalang
Saponyono pun menjalankan tugas sebisanya.

Karena merasa tertantang untuk membawakan cerita wayang yang tidak sewajarnya, sebab lakon
wayang yang biasa dibawakan dalam acara pernikahan adalah wayang yang alur ceritanya
berakhir dengan kebahagiaan, namun kali ini dalang Sapanyono harus membawakan wayang
dengan cerita yang berakhir sedih. Hal ini pasti mendapat protes sama penonton.

Namun Bagaimanapun juga Ki Dalang Soponyono harus mementaskannya sebab Dewi Ruyung
Wulan tidak mau duduk di singgasana pengantin kalau permintaannya tidak dituruti. Akhirnya Ki
dalang Soponyono menuruti permintaan Dewi Ruyung Wulan, Ia ditemani oleh dua orang
adiknya yang cantik-cantik bernama Ambarsari dan Ambarwati yang bertindak sebagai
waranggano Swarawati

Sebaliknya R Jaseri hatinya berbunga-bunga dapat bersanding dengan Dewi Ruyung Wulan di
pelaminan. Air liur R Jaseri selalu menentes bila melihat kecantikannya. Tangannya mulai nakal
mencolak-colek pipi Dewi Ruyung Wulan. Sehingga membuat Dewi Ruyung Wulan tidak
nyaman.

Di tengah asyik-asyiknya pagelaran wayang purwa berlangsung, terjadilah keributan yang
ditimbulkan Dewi Rayung Wulan. Ia lari dari pelaminan dan menjatuhkan diri di atas pangkauan
Ki Dalang Saponyono.

Dewi Ruyung Wulan terhanyut dalam cerita pewayangan yang dimainkan Ki Dalang dan dirinya
terpesona dan jatuh cinta kepada Ki dalang Soponyono yang wajahnya lebih tampan dan pandai
memainkan cerita wayang daripada Raden Jaseri yang selalu mengumbar nafsu birahinya.

“Bawa aku lari Kakang Soponyono, kalau tidak lebih baik aku mati saja!” ujarnya.

Tingkah laku Dewi Ruyung Wulan ini tentu saja mengejutkan semua tamu yang hadir terutama
orang tua kedua mempelai. Ki Dalang sendiri juga terkejut dan takut, maka Ki Dalang
mengeluarkan kesaktiannya, untuk memadamkan semua lampu yang berada di Kadipaten
Carangsoko.

Keadaan yang gelap gulita itu, membuat panik yang hadir dalam perjamuan tersebut,
kesempatan ini dimanfaatkan Ki Saponyono melarikan diri diikuti oleh kedua adiknya dan Dewi
Ruyung Wulan.

Kejadian ini membuat Sang Adipati Carangsoko Puspo Handung Joyo sangat marah sekali. Ia
memanggil Patihnya Singopadu untuk segera mengatasi keadaan ini.

“Cepat perintahkan prajurit untuk menyalakan lampunya” para prajurit bergegas menyalakan
lampunya.

Setelah lampu menyala, Raden Jaseri bergulung-gulung dilantai karena calon istrinya raib
bersama Ki Dalang Soponyono.

Maka Adipati Paranggarudo memerintahkan patihnya Singopadu untuk segera mepersiapkan
prajurit, mengejar Ki Dalang Soponyono dan Dewi Ruyung Wulan.

Prajurit menyebar ke seluruh desa, memasuki rumah-rumah dengan tidak sopan santun dan
kasar, Rakyat Carangsoko pun menjadi ketakutan, mereka berlari berhamburan menyelamatkan
diri.

Semua prajurit telah menggeledah semua rumah penduduk urnuk mencari Ki Dalang Sopoyono
dan Dewi Ruyung Wulan barangkali mereka bersembunyi di dalam rumah penduduk tersebut,

Kejdian ini membuat Adipati Puspo Handung Joyo kurang senang, yang dicari buronannya Ki
Dalang Soponyono tapi malah rumah rakyat yang dirusak.

Adipati Paranggarudo tidak mau peduli, yang penting adalah Ki Soponyono harus ketangkap
mati atau hidup. Karena telah menghina kewibawaan Adipati Paranggarudo.

Ki Soponyono dan Dewi Ruyung Wulan yang disertai adik-adiknya berlari terus menuju hutan,
mereka berjalan mengikuti alur sungai.

Ki Soponyono sempat melakukan perlawanan kepada para pengejar walaupun sia-sia, karena
tidak seimbang jumlah pengejar dan yang dikejar.

Keluar hutan masuk hutan, Dewi Ruyung Wulan menanggalkan pakaian kebesaran, kemudian dia
menukarkan dengan baju penduduk setempat, mereka menyamar menjadi penduduk desa, agar
tidak menjadi perhatian penduduk.

Akhirnya mereka sampai di Dukuh Bantengan (Trangkil) wilayah Panewon Majasemi. Panasnya
Terik Matahari di siang hari membuat keempat orang tersebut kehausan. Musim kemarau yang
panjang membuat mata air kering sehingga amat berharganya air. Mereka terus berjalan untuk
mendapatkan seteguk air.

Mereka duduk di bawah pohon besar yang kering, setelah berlari tanpa berhenti merupakan
siksaan terlebih bagi ketiga orang putri terutama dewi Rayungwulan yang tidak pernah bekerja
berat dan berjalan jauh. Rasa haus bagi ketiga putri tersebut sudah tak tertahankan lagi, untuk
meneruskan perjalanannya sudah tidak mungkinkan lagi.

Karena hausnya mereka berlari mengejar daratan yang penuh dengan sumber air setelah
didekati ternyata hanya sebuah fatamorgana. Mereka berjalan tertatih-tatih, sampailah mereka di
sebuah sawah yang sunyi tidak ada sumurnya, dan sungai di sekitarnya sudah kering karena
kemarau panjang itu.

Melihat hal itu Ki Dalang Sapanyono sangat bingung hatinya karena akan meminta air pada
penduduk tidak berani, takut bertemu pengejarnya. Maka jalan satu-satunya adalah mencuri
semangka atau mentimun yang ada di sawah tersebut.

Mereka tidak menyadari bahwa semua bergerak-geraknya diawasi dari jauh oleh pemilik sawah
yaitu adik dari Panewu Sukmoyono yang bernama Raden Kembangjoyo.

Berdasarkan laporan penduduk bahwa sawahnya sering dirusak oleh binatang-binatang seperti
kerbau, kancil. Namun kali ini Kembangjoyo kaget ternyata yang selama ini yang merusak
tanamannya bukan binatang tapi manusia. Kembangjoyo memerintahkan anak buahnya untuk
mengepung sawah tersebut.

“Ternyata selama ini yang merusak tanaman-tanaman kami adalah kamu! Ya maling! Tangkap”
terjadilah perang antara Ki Soponyono dengan anak buahnya Kembang Joyo, mereka semua
dapat dilumpuhkan oleh Ki Soponyono.

Akhirnya Kembang Joyo turun tangan mereka berdua bertarung di tengah sawah. Dari kejauhan
tiga putri itu bersembunyi menyaksikan pertarungan tersebut, karena dianggap pasukan
Paranggarudo. Namun tanpa daya Ki Sopanyono melawan R. Kembangjoyo, karena Kembang
Joyo lebih sakti dari Ki Soponyono.

Ki Soponyono ditlikung kakinya, kemudian tangannya diikat dengan tali dadung.

“Saya mencuri karena terpaksa Ndoro” ujar Ki Soponyono.

“Yang namanya maling juga terpaksa semua” jawab R. Kembangjoyo.

Sejurus dengan itu keluarlah Dewi Ruyung Wulan beserta kedua adik Dalang Soponyono.

“Lepaskan Kakang Soponyono, yang kamu buru aku kan, aku boleh kamu bawa asalkan Kakang
Soponyono dilepaskan dahulu” ujar Dewi Ruyung Wulan mengira bahwa yang menangkap
Dalang Soponyono adalah Pasukan Paranggarudo.

R Kembang Joyo menjadi heran ternyata maling yang ditangkapnya membawa tiga orang gadis
yang cantik-cantik. Namun karena Kembang Joyo hanya ditugaskan untuk menjaga sawah milik
kakaknya, makanya ia tetap merangket keempat orang tersebut.

Mereka berempat menjadi tawanan R Kembang Joyo, kemudian mereka dihadapkan kepada
Penewu Sukmoyono untuk diminta penjelasannnya.

Ki Soponyono memperkenalkan dirinya dan satu persatu kawan-kawannya. Selanjutnya ia
menceritakan semua kejadian-kejadian yang telah dialami, mengapa mereka sampai di dikejar-
kejar pasukan Parang Garudo, mereka terpaksa mencuri semangka dan mentimun milik Raden
KembangJoyo, karena kehausan dan lapar.

Mendengar penuturan Ki Soponyono tersebut Penewu Sukmayono merasa kasihan dan tidak
sampai hati untuk menjatuhi hukuman. Penewu Sukmayono bersedia menampung dan
melindungi mereka.

“Tinggal di sini semaumu, masalah Parang Garudo biar kami yang akan menghadapinya.”
ujarnya.

Penewu Sukmoyono mempersilahkan Ki Dalang Soponyono, dan ketiga putri untuk beristirahat
dahulu.

Sebagai rasa terima kasih yang tak terhingga atas segala kebaikan Sukmoyono, Ki Saponyono
mempersembahkan kedua adiknya kepada Sang Penewu untuk dijadikan hambanya.
Persembahan tersebut diterima dengan senang hati.

Akhirnya Ambarsari diperistri oleh Penewu sebagai selir, sedangkan Ambarwati diberikan kepada
R Kembang Joyo untuk dijadikan istrinya. Sedangkan Dewi Ruyung Wulan akan dikembalikan
kepada bapaknya Adipati Carang Soko, Puspo Handung Joyo.

Keris Rambut Pinutung

beberapa saat kemudian, Yuyu Rumpung seorang pembesar dari Kemaguhan yang juga merupakan anak buah Paranggarudo tahu kalau keris Rambut Pinutung dengan Kuluk Kanigoro adalah pusaka hebat yang dimiliki Sukmoyono.

Yuyu Rumpung memerintahkan anak buahnya. Yang bernama Sondong Majeruk untuk
mengambil kedua pusaka tersebut. Akan tetapi sebelum dapat diserahkan kepada Yuyu
Rumpung sudah dapat diketahui Sondong Makerti sehingga terjadi pertempuran.

Dalam pertempuran tersebut Sondong Majeruk kelelahan dan kehabisan tenaga, lalu keris Rambut Pinutung yang dibawa Sondong Makerti berhasil menusuk perut Sondong Majeruk hingga tewas.

Selamatlah keris Rambut Pinutung tidak bisa dibawa oleh Sondong Majeruk. Yuyu Rumpung
murka kemudian memerintahkan segera menyerbu Majasemi untuk bergabung dengan Pasukan
Yudhopati dengan patih Singopati.

Sementera itu para prajurit Parang Garudo masih saja melakukan pengejaran dan
penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Sampailah mereka di Majasemi. Betapa marahnya
Adipati Yudhopati ketika mendapat laporan bahwa buronan Ki Dalang Soponyono, Dewi Ruyung
Wulan bersama kedua adik Soponyono berada Di Majasemi mereka dilindungi oleh Penewu
Sukmayono.

Maka terjadilah pertempuran yang sangat seru banyak korban yang berjatuhan, juga Ki Penewu
Sukmoyono gugur dalam pertempuran itu. Mendengar Penewu Sukmayono gugur, Raden
Kembangjoyo mengamuk dengan memegang keris Rambut Pinutung dengan kuluk Kanigoro
menghancurkan Pasukan Paranggarudo.

Mereka dibantu oleh pasukan Carangsoko, pertempuran dahsyat antara Patih Singopati dengan
Patih Singopadu, memporsir energi sehingga keduanya gugur di medan laga. Pertempuran di
Majasemi berakhir dengan membawa banyak korban.

Ki Saponyono mengantarkan Dewi Ruyung Wulan bersama-sama dengan Raden Kembangjoyo.
Sebagai ucapan terima kasih, Dewi Ruyung Wulan diberikan kepada Raden Kembang Joyo untuk
dijadikan istrinya, karena Kembang Joyo berhasil mengalahkan Yudho Pati adipati Paranggarudo
kemudian ia menetap di Carangsoko menggantikan Puspo Handung Joyo sebagai pemimpin
Kadipaten.

Ia juga diangkat menjadi Adipati setelah menggabungkan tiga kadipaten yaitu Paranggarudo,
Carangsoko dan Majasemi menjadi satu kadipaten Pati.

Peleburan ketiga daerah ini itu telah menciptakan kerukunan dari tiga kadipaten yang bertikai,
untuk lebih memantapkan dalam memimpin kadipaten. Kemudian dia mengajak Ki Dalang
Soponyono untuk memperluas wilayah kekuasaannya, dan mencari lokasi yang baik sebagai
pusat pemerintahan, Raden Kembangjaya dan Raden Sopanyono menuju hutan Kemiri, dan
segeralah hutan tersebut dibabat untuk Kadipaten/pusat pemerintahan.

Alas (Hutan) Kemiri dihuni oleh beberapa binatang Singa, Gajah dan binatang buas lainnya,
selain itu juga dihuni oleh kerajaan siluman. Kembang Joyo dan Dalang Soponyono bahu
membahu melawan kerajaan Siluman tersebut.

Akhirnya dengan kesaktian Kembang Joyo membuat pemimpin Siluman menyerah. Untuk
menangkal makhluk-makluk halus Ki Dalang Sopoyono selamatan dengan memainkan wayang di
hutan Kemiri. Sirnalah pemimpin Siluman beserta anak buahnya lari dari hutan kemiri.

Esok harinya Kembang Joyo dan Ki Dalang Soponyono beserta parajurit Carangsoko
melanjutkan pekerjaannya membuka Hutan Kemiri menjadi perkampungan, di tengah mereka
sedang membuka hutan datanglah seorang laki-laki memikul gentong yang berisi air.

“Berhenti kisanak!, siapa namamu dan apa yang sedang kau pikul itu?”

“Saya Ki Sagola, yang gentong yang kupikul ini berisi Dawet, aku terbiasa berjualan lewat sini.”

“Dawet itu minuman apa?, coba saya minta dibuatkan, prajurit-prajurit saya ini juga dibuatkan!

“ Kenapa hutan ini kok ditebangi?, kasihan para binatang pada lari ke gunung?”

“Kami sedang membuka hutan ini untuk perkampungan baru, agar kelak dapat menjadi kota raja
yang makmur, gemah ripah loh jinawi, sebab daerah kami dulu sudah tidak memungkinkan kita
tempati akibat perang Saudara”

Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar, maka ia
bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya.

Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa,
gula aren/kelapa.

Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terispirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini
selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan.

Dalam perkembangannya Kadipaten Pati-Pesantenan menjadi makmur gemah ripah loh jinawi
dibawah kepemimpinan Kembang Joyo. (sumber : patikab.go.id)

PADA zaman dulu di Kadipaten Paranggaruda saat ada hajatan untuk mengawinkan putera
satu-satunya yang bernama Raden Jaseri atau lebih terkenal dengan sebutan Menak Jasari
dengan putri Adipati Carangsoko bernama Dewi Ruyung Wulan.

Menak Jasari adalah seorang pemuda yang fisiknya cacat, dan berwajah jelek sehingga membuat
Dewi Ruyung Wulan menolak untuk dijodohkan. Namun karena paksaan orang tua maka mau
tidak mau Dewi Ruyung Wulan harus menerima Raden Jaseri sebagai suaminya.

Pesta perkawinannya pun berlangsung, tapi Dewi Ruyung Wulan terus bersedih dan meminta
pestanya dengan pagelaran wayang yang dimeriahkan wayang purwo (wayang kulit) dengan
dalang Ki Soponyono yang sangat terkenal sebagai dalang yang mampu membawakan beberapa
karakter tokoh yang ada dalam cerita Mahabarata dan Ramayana sehingga banyak penonton
yang terbius seolah cerita itu tersebut.

Sebenarnya Ki Dalang Sapanyono kebingungan atas permintaan yang diajukan oleh Dewi
Ruyung Wulan, namun Hal ini hanyalah merupakan taktik dari Dewi untuk mengulur-ulur
pernikahan. Tujuannya hanya satu yaitu pernikahaannya gagal karena dirinya tidak mencintai
R. Jasari calon suaminnya. Baginya, pernikahan yang tidak dilandasi cinta akan menyakitkan dan
dapat melemahkan semangat untuk hidup berumah tangga.

Ia berpesan kepada Dalang Saponyono untuk mencari cerita pewayangan yang mirip dengan
cerita kisah sedihnya. Biar semua orang tahu rintihan hati Dewi Ruyung Wulan. Ki Dalang
Saponyono pun menjalankan tugas sebisanya.

Karena merasa tertantang untuk membawakan cerita wayang yang tidak sewajarnya, sebab lakon
wayang yang biasa dibawakan dalam acara pernikahan adalah wayang yang alur ceritanya
berakhir dengan kebahagiaan, namun kali ini dalang Sapanyono harus membawakan wayang
dengan cerita yang berakhir sedih. Hal ini pasti mendapat protes sama penonton.

Namun Bagaimanapun juga Ki Dalang Soponyono harus mementaskannya sebab Dewi Ruyung
Wulan tidak mau duduk di singgasana pengantin kalau permintaannya tidak dituruti. Akhirnya Ki
dalang Soponyono menuruti permintaan Dewi Ruyung Wulan, Ia ditemani oleh dua orang
adiknya yang cantik-cantik bernama Ambarsari dan Ambarwati yang bertindak sebagai
waranggano Swarawati

Sebaliknya R Jaseri hatinya berbunga-bunga dapat bersanding dengan Dewi Ruyung Wulan di
pelaminan. Air liur R Jaseri selalu menentes bila melihat kecantikannya. Tangannya mulai nakal
mencolak-colek pipi Dewi Ruyung Wulan. Sehingga membuat Dewi Ruyung Wulan tidak
nyaman.

Di tengah asyik-asyiknya pagelaran wayang purwa berlangsung, terjadilah keributan yang
ditimbulkan Dewi Rayung Wulan. Ia lari dari pelaminan dan menjatuhkan diri di atas pangkauan
Ki Dalang Saponyono.

Dewi Ruyung Wulan terhanyut dalam cerita pewayangan yang dimainkan Ki Dalang dan dirinya
terpesona dan jatuh cinta kepada Ki dalang Soponyono yang wajahnya lebih tampan dan pandai
memainkan cerita wayang daripada Raden Jaseri yang selalu mengumbar nafsu birahinya.

“Bawa aku lari Kakang Soponyono, kalau tidak lebih baik aku mati saja!” ujarnya.

Tingkah laku Dewi Ruyung Wulan ini tentu saja mengejutkan semua tamu yang hadir terutama
orang tua kedua mempelai. Ki Dalang sendiri juga terkejut dan takut, maka Ki Dalang
mengeluarkan kesaktiannya, untuk memadamkan semua lampu yang berada di Kadipaten
Carangsoko.

Keadaan yang gelap gulita itu, membuat panik yang hadir dalam perjamuan tersebut,
kesempatan ini dimanfaatkan Ki Saponyono melarikan diri diikuti oleh kedua adiknya dan Dewi
Ruyung Wulan.

Kejadian ini membuat Sang Adipati Carangsoko Puspo Handung Joyo sangat marah sekali. Ia
memanggil Patihnya Singopadu untuk segera mengatasi keadaan ini.

“Cepat perintahkan prajurit untuk menyalakan lampunya” para prajurit bergegas menyalakan
lampunya.

Setelah lampu menyala, Raden Jaseri bergulung-gulung dilantai karena calon istrinya raib
bersama Ki Dalang Soponyono.

Maka Adipati Paranggarudo memerintahkan patihnya Singopadu untuk segera mepersiapkan
prajurit, mengejar Ki Dalang Soponyono dan Dewi Ruyung Wulan.

Prajurit menyebar ke seluruh desa, memasuki rumah-rumah dengan tidak sopan santun dan
kasar, Rakyat Carangsoko pun menjadi ketakutan, mereka berlari berhamburan menyelamatkan
diri.

Semua prajurit telah menggeledah semua rumah penduduk urnuk mencari Ki Dalang Sopoyono
dan Dewi Ruyung Wulan barangkali mereka bersembunyi di dalam rumah penduduk tersebut,

Kejdian ini membuat Adipati Puspo Handung Joyo kurang senang, yang dicari buronannya Ki
Dalang Soponyono tapi malah rumah rakyat yang dirusak.

Adipati Paranggarudo tidak mau peduli, yang penting adalah Ki Soponyono harus ketangkap
mati atau hidup. Karena telah menghina kewibawaan Adipati Paranggarudo.

Ki Soponyono dan Dewi Ruyung Wulan yang disertai adik-adiknya berlari terus menuju hutan,
mereka berjalan mengikuti alur sungai.

Ki Soponyono sempat melakukan perlawanan kepada para pengejar walaupun sia-sia, karena
tidak seimbang jumlah pengejar dan yang dikejar.

Keluar hutan masuk hutan, Dewi Ruyung Wulan menanggalkan pakaian kebesaran, kemudian dia
menukarkan dengan baju penduduk setempat, mereka menyamar menjadi penduduk desa, agar
tidak menjadi perhatian penduduk.

Akhirnya mereka sampai di Dukuh Bantengan (Trangkil) wilayah Panewon Majasemi. Panasnya
Terik Matahari di siang hari membuat keempat orang tersebut kehausan. Musim kemarau yang
panjang membuat mata air kering sehingga amat berharganya air. Mereka terus berjalan untuk
mendapatkan seteguk air.

Mereka duduk di bawah pohon besar yang kering, setelah berlari tanpa berhenti merupakan
siksaan terlebih bagi ketiga orang putri terutama dewi Rayungwulan yang tidak pernah bekerja
berat dan berjalan jauh. Rasa haus bagi ketiga putri tersebut sudah tak tertahankan lagi, untuk
meneruskan perjalanannya sudah tidak mungkinkan lagi.

Karena hausnya mereka berlari mengejar daratan yang penuh dengan sumber air setelah
didekati ternyata hanya sebuah fatamorgana. Mereka berjalan tertatih-tatih, sampailah mereka di
sebuah sawah yang sunyi tidak ada sumurnya, dan sungai di sekitarnya sudah kering karena
kemarau panjang itu.

Melihat hal itu Ki Dalang Sapanyono sangat bingung hatinya karena akan meminta air pada
penduduk tidak berani, takut bertemu pengejarnya. Maka jalan satu-satunya adalah mencuri
semangka atau mentimun yang ada di sawah tersebut.

Mereka tidak menyadari bahwa semua bergerak-geraknya diawasi dari jauh oleh pemilik sawah
yaitu adik dari Panewu Sukmoyono yang bernama Raden Kembangjoyo.

Berdasarkan laporan penduduk bahwa sawahnya sering dirusak oleh binatang-binatang seperti
kerbau, kancil. Namun kali ini Kembangjoyo kaget ternyata yang selama ini yang merusak
tanamannya bukan binatang tapi manusia. Kembangjoyo memerintahkan anak buahnya untuk
mengepung sawah tersebut.

“Ternyata selama ini yang merusak tanaman-tanaman kami adalah kamu! Ya maling! Tangkap”
terjadilah perang antara Ki Soponyono dengan anak buahnya Kembang Joyo, mereka semua
dapat dilumpuhkan oleh Ki Soponyono.

Akhirnya Kembang Joyo turun tangan mereka berdua bertarung di tengah sawah. Dari kejauhan
tiga putri itu bersembunyi menyaksikan pertarungan tersebut, karena dianggap pasukan
Paranggarudo. Namun tanpa daya Ki Sopanyono melawan R. Kembangjoyo, karena Kembang
Joyo lebih sakti dari Ki Soponyono.

Ki Soponyono ditlikung kakinya, kemudian tangannya diikat dengan tali dadung.

“Saya mencuri karena terpaksa Ndoro” ujar Ki Soponyono.

“Yang namanya maling juga terpaksa semua” jawab R. Kembangjoyo.

Sejurus dengan itu keluarlah Dewi Ruyung Wulan beserta kedua adik Dalang Soponyono.

“Lepaskan Kakang Soponyono, yang kamu buru aku kan, aku boleh kamu bawa asalkan Kakang
Soponyono dilepaskan dahulu” ujar Dewi Ruyung Wulan mengira bahwa yang menangkap
Dalang Soponyono adalah Pasukan Paranggarudo.

R Kembang Joyo menjadi heran ternyata maling yang ditangkapnya membawa tiga orang gadis
yang cantik-cantik. Namun karena Kembang Joyo hanya ditugaskan untuk menjaga sawah milik
kakaknya, makanya ia tetap merangket keempat orang tersebut.

Mereka berempat menjadi tawanan R Kembang Joyo, kemudian mereka dihadapkan kepada
Penewu Sukmoyono untuk diminta penjelasannnya.

Ki Soponyono memperkenalkan dirinya dan satu persatu kawan-kawannya. Selanjutnya ia
menceritakan semua kejadian-kejadian yang telah dialami, mengapa mereka sampai di dikejar-
kejar pasukan Parang Garudo, mereka terpaksa mencuri semangka dan mentimun milik Raden
KembangJoyo, karena kehausan dan lapar.

Mendengar penuturan Ki Soponyono tersebut Penewu Sukmayono merasa kasihan dan tidak
sampai hati untuk menjatuhi hukuman. Penewu Sukmayono bersedia menampung dan
melindungi mereka.

“Tinggal di sini semaumu, masalah Parang Garudo biar kami yang akan menghadapinya.”
ujarnya.

Penewu Sukmoyono mempersilahkan Ki Dalang Soponyono, dan ketiga putri untuk beristirahat
dahulu.

Sebagai rasa terima kasih yang tak terhingga atas segala kebaikan Sukmoyono, Ki Saponyono
mempersembahkan kedua adiknya kepada Sang Penewu untuk dijadikan hambanya.
Persembahan tersebut diterima dengan senang hati.

Akhirnya Ambarsari diperistri oleh Penewu sebagai selir, sedangkan Ambarwati diberikan kepada
R Kembang Joyo untuk dijadikan istrinya. Sedangkan Dewi Ruyung Wulan akan dikembalikan
kepada bapaknya Adipati Carang Soko, Puspo Handung Joyo.

Keris Rambut Pinutung

beberapa saat kemudian, Yuyu Rumpung seorang pembesar dari Kemaguhan yang juga merupakan anak buah Paranggarudo tahu kalau keris Rambut Pinutung dengan Kuluk Kanigoro adalah pusaka hebat yang dimiliki Sukmoyono.

Yuyu Rumpung memerintahkan anak buahnya. Yang bernama Sondong Majeruk untuk
mengambil kedua pusaka tersebut. Akan tetapi sebelum dapat diserahkan kepada Yuyu
Rumpung sudah dapat diketahui Sondong Makerti sehingga terjadi pertempuran.

Dalam pertempuran tersebut Sondong Majeruk kelelahan dan kehabisan tenaga, lalu keris Rambut Pinutung yang dibawa Sondong Makerti berhasil menusuk perut Sondong Majeruk hingga tewas.

Selamatlah keris Rambut Pinutung tidak bisa dibawa oleh Sondong Majeruk. Yuyu Rumpung
murka kemudian memerintahkan segera menyerbu Majasemi untuk bergabung dengan Pasukan
Yudhopati dengan patih Singopati.

Sementera itu para prajurit Parang Garudo masih saja melakukan pengejaran dan
penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Sampailah mereka di Majasemi. Betapa marahnya
Adipati Yudhopati ketika mendapat laporan bahwa buronan Ki Dalang Soponyono, Dewi Ruyung
Wulan bersama kedua adik Soponyono berada Di Majasemi mereka dilindungi oleh Penewu
Sukmayono.

Maka terjadilah pertempuran yang sangat seru banyak korban yang berjatuhan, juga Ki Penewu
Sukmoyono gugur dalam pertempuran itu. Mendengar Penewu Sukmayono gugur, Raden
Kembangjoyo mengamuk dengan memegang keris Rambut Pinutung dengan kuluk Kanigoro
menghancurkan Pasukan Paranggarudo.

Mereka dibantu oleh pasukan Carangsoko, pertempuran dahsyat antara Patih Singopati dengan
Patih Singopadu, memporsir energi sehingga keduanya gugur di medan laga. Pertempuran di
Majasemi berakhir dengan membawa banyak korban.

Ki Saponyono mengantarkan Dewi Ruyung Wulan bersama-sama dengan Raden Kembangjoyo.
Sebagai ucapan terima kasih, Dewi Ruyung Wulan diberikan kepada Raden Kembang Joyo untuk
dijadikan istrinya, karena Kembang Joyo berhasil mengalahkan Yudho Pati adipati Paranggarudo
kemudian ia menetap di Carangsoko menggantikan Puspo Handung Joyo sebagai pemimpin
Kadipaten.

Ia juga diangkat menjadi Adipati setelah menggabungkan tiga kadipaten yaitu Paranggarudo,
Carangsoko dan Majasemi menjadi satu kadipaten Pati.

Peleburan ketiga daerah ini itu telah menciptakan kerukunan dari tiga kadipaten yang bertikai,
untuk lebih memantapkan dalam memimpin kadipaten. Kemudian dia mengajak Ki Dalang
Soponyono untuk memperluas wilayah kekuasaannya, dan mencari lokasi yang baik sebagai
pusat pemerintahan, Raden Kembangjaya dan Raden Sopanyono menuju hutan Kemiri, dan
segeralah hutan tersebut dibabat untuk Kadipaten/pusat pemerintahan.

Alas (Hutan) Kemiri dihuni oleh beberapa binatang Singa, Gajah dan binatang buas lainnya,
selain itu juga dihuni oleh kerajaan siluman. Kembang Joyo dan Dalang Soponyono bahu
membahu melawan kerajaan Siluman tersebut.

Akhirnya dengan kesaktian Kembang Joyo membuat pemimpin Siluman menyerah. Untuk
menangkal makhluk-makluk halus Ki Dalang Sopoyono selamatan dengan memainkan wayang di
hutan Kemiri. Sirnalah pemimpin Siluman beserta anak buahnya lari dari hutan kemiri.

Esok harinya Kembang Joyo dan Ki Dalang Soponyono beserta parajurit Carangsoko
melanjutkan pekerjaannya membuka Hutan Kemiri menjadi perkampungan, di tengah mereka
sedang membuka hutan datanglah seorang laki-laki memikul gentong yang berisi air.

“Berhenti kisanak!, siapa namamu dan apa yang sedang kau pikul itu?”

“Saya Ki Sagola, yang gentong yang kupikul ini berisi Dawet, aku terbiasa berjualan lewat sini.”

“Dawet itu minuman apa?, coba saya minta dibuatkan, prajurit-prajurit saya ini juga dibuatkan!

“ Kenapa hutan ini kok ditebangi?, kasihan para binatang pada lari ke gunung?”

“Kami sedang membuka hutan ini untuk perkampungan baru, agar kelak dapat menjadi kota raja
yang makmur, gemah ripah loh jinawi, sebab daerah kami dulu sudah tidak memungkinkan kita
tempati akibat perang Saudara”

Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar, maka ia
bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya.

Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa,
gula aren/kelapa.

Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terispirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini
selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan.

Dalam perkembangannya Kadipaten Pati-Pesantenan menjadi makmur gemah ripah loh jinawi
dibawah kepemimpinan Kembang Joyo. (sumber : patikab.go.id)