Jateng Today
Tiwi – Dono Unggul di Pilkada Purbalingga 2020

Tiwi – Dono Unggul di Pilkada Purbalingga 2020

PURBALINGGA, JATENGSATU.COM — Pasangan calon nomor 2 pilkada kabupaten Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE, BE Econ, MM – Sudono ST, MT memenangkan Pilkada Kabupaten Purbalingga 2020.

Berdasarkan perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pilkada2020 KPU.

Pasangan ini unggul dengan meraup total suara 288.920 suara dngan persentase suara 54.8 persen suara.

Sedangkan pasangan nomor urut 1 Muhammad Sulhan Fauzi, SE, MM – Zaini Makarim Supriyatno ST hanya meraup 45.2 % suara dengan total suara 238.529 suara.

Rekapitulasi sudah selesai dan ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK), lampirannya bisa digunakan untuk para pihak yang keberatan atau tidak puas terhadap hasil keputusan KPU untuk gugatan di MK.

Tidak ada penolakan terhadap hasil hitung suara yang dilakukan KPU.

Hanya saja, Saksi Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga nomor urut 1 Muhammad Sulhan Fauzi-Zaini Makarim (Oji-Jeni), Sukhedi, menolak menandatangani berita acara hasil perolehan suara Pilbup Purbalingga 2020.

Sukhedi membenarkan dirinya menolak menandatangani berita acara rekapitulasi hasil penghitungan suara.

Sukhedi mengaku mendapatkan mandat untuk menjadi saksi dan disarankan untuk tidak menandatangani berita acara.

“Saya mendapatkan mandat, sebagai saksi agar tidak menandatangani berita acara hasil, ” katanya, Selasa (15/12/2020)

Sukhedi mengakui, para saksi kompak tidak menandatangani berita acara sejak dilakukan rekapitulasi suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

Tetapi bukan berarti pihaknya menolak hasil penghitungan suara KPU.

Pihaknya mempersoalkan proses dari pencalonan sampai hari tenang yang diwarnai banyak indikasi pelanggaran.

Pihaknya menduga ada usaha untuk menggerakkan pejabat pemerintahan hingga tingkat terbawah untuk pemenangan calon.

Pihaknya juga menduga ada unsur kampanye yang menumpang proses penyaluran bantuan sosial ke masyarakat.

Selain itu, pihaknya menemukan dugaan politik uang untuk pemenangan calon.

“Bukan kami tidak menerima hasil.”

“Yang kami tolak prosesnya, ” katanya

Sukhedi sadar, penolakan tanda tangan berita acara tidak akan memengaruhi hasil perolehan suara.

Paling tidak, ini bagian dari wujud protes pihaknya terhadap proses pemenangan yang kurang fair.
Atas temuan-temuan dugaan pelanggaran itu, pihaknya pun telah melaporkannya ke Bawaslu untuk ditindaklanjuti.

Ia juga mengaku pihaknya telah mengantongi barang bukti pelanggaran dimaksud.

“Sudah kami sampaikan laporan ke Bawaslu, ” katanya

Sumber : Tribunjateng.com