Jateng Today
Sunan Ampel : Haul ke-544 Sunan Ampel Kembali Dihadiri Wali Kota Surabaya
sunan ampel

Sunan Ampel : Haul ke-544 Sunan Ampel Kembali Dihadiri Wali Kota Surabaya

JATENGSATU.COM — BARU-BARU kata Sunan Ampel menjadi trending topik, telusur punya telusur ternyata berhubungan dengan haul Sunan Ampel. Apa hubungannya?

Baru-baru ini Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menghadiri haul ke-544 Sunan Ampel. Setelah pada tahun kemarin Eri Cahyadi absen dalam haul karena pandemi Covid-19, kali ini ia kembali datang ke peringatan tahunan Sunan Ampel.

Haul Sunan Ampel tetap diadakan dengan protokol kesehatan ketat. Kiai dan habib yang masuk ke area makam Sunan Ampel dibatasi. Tempat duduk peziarah juga diatur sehingga tidak berkerumun.

sunan ampel

sunan ampel

Seusai doa bersama selesai, Wali Kota Eri Cahyadi meminta kepada para habib dan para kiai yang hadir saat itu untuk mendoakan Surabaya supaya semakin baik ke depannya, semakin tenang, damai dan penuh dengan gotong-royong.

Eri Cahyadi juga mengatakan Sunan Ampel sekalipun sudah wafat, ternyata masih bisa roda perekonomian warga lewat peziarah yang datang ke makamnya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir dengan baju koko putih, lengkap dengan sarung biru, dan peci hitamnya. Duduk di samping Makam Sunan Ampel, ia sangat khusyuk mengikuti pembacaan surat Yaasin, Tahlil, dan doa bersama.

Para personel Satpol PP dan Linmas serta petugas keamanan Makam Sunan Ampel mengawasi para peziarah itu dan mengatur tempat duduk para peziarah. Mereka diatur jaraknya supaya tidak berkerumun.

Ery Cahyadi mengaku selalu ingat dengan perkataan Habib Luthfi yang menyampaikan bahwa sebagai manusia harus selalu bisa membahagiakan orang lain.

Bahkan, Sunan Ampel ini meskipun sudah wafat, tapi ternyata bisa menggerakkan roda perekonomian warga.

Sunan Ampel adalah salah satu diantara wali songo yang menyebarkan agama di Islam di Nusantara tepatnya di tanah Jawa.

Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden Mohammad Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) menyebarkan agama Islam di wilayah Surabaya, Jawa Timur.

Sunan Ampel merupakan anak dari Maulana Malik Ibrahim atau Malik Maghribi atau yang dikenal Sunan Gresik.

Sunan Ampel dikenal dengan metode dakwahnya Moh Limo. Ia juga salah satu sebagai pencetus Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan membantu membangun Masjis Agung Demak.

Sunan Ampel lahir di Champa, Kamboja sekitar 1401. Sunan Ampel juga keponakan dari Raja Majapahit yang dipimpin oleh Raja Brawijaya.

Dalam buku Sunan Ampel (Raden Rahmad) karya Yoyok Rahayu Basuki, adapun kakak sulung ibunya adalah Dewi Sasmitraputri yang merupakan permaisuri Prabu Kertawijaya atau Brawijaya.

Pada 1443, bersama saudara tuanya bernama Ali Musada (Ali Murtadho) dan sepupunya Raden Burereh datang ke Jawa dan menetap di Tuban.

Setelah menetap di Tuban, ia berangkat menuju Kerajaan Majapahit untuk menemui bibinya Dewi Sasmitraputri.

Sunan Ampel berdakwah menyebarkan agama Islam di wilayah Kerajaan Majapahit yang sedang dalam masa-masa suram.

Karena para adipati dan pembesar kerajaan melupakan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Mereka lebih suka hidup bermewah-mewah dan berpesta.

Kondisi itu membuat Prabu Brawijaya merasa sedih mengetahui kerajaan yang carut marut. Prabu Brawijaya pun kemudian mengundang Raden Rahmat untuk mengatasi masalah-masalah di Kerajaan Majapahit.

Cara berdakwah

Sunan Ampel mampu menjalankan tugas dengan baik. Dengan kesabaran dan kewibawaannya, Sunan Ampel mampu mengatasi situasi Kerajaan Majapahit dengan menyadarkan dan mendidik para bangsawan serta adipati ke jalan yang benar.

Dikutip buku 9 Sunan (2015) karya Sri Sumaryoto, setelah berhasil menyadarkan para bangsawan dan adipati, Sunan Ampel melanjutkan niatnya untuk berdakwa di masyarakat.

Saat berjalan menyusuri desa, Raden Rahmat tiba di sebuah tempat yang kosong. Di situ, ia membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah, kemudian membangun pesantren.

Daerah tersebut dikenal dengan Ampeldenta. Di situlah diberi kekuasaan dan kemudian dikenal dengan Sunan Ampel.

Cara dakwah yang dilakukan Sunan Ampel sangat singkat dan cepat. Cara dakwahnya dikenal dengan falsafah “Moh Limo”, yang artinya tidak melakukan lima hal tercela.

Lima hal tersebut adalah:

Moh Main (tidak mau berjudi)
Moh Ngombe (tidak mau mabuk)
Moh Maling (tidak mau mencuri)
Moh Madat (tidak mau menghisap candu)
Moh Madon (tidak mau berzina).

Pencetus Kasultanan Demak

Sunan Ampel juga sebagai salah satu pencetus berdiri Kasultanan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Bahkan salah satu muridnya, yakni Raden Patah diangkat menjadi Sultan Demak pertama pada 1475.

Ia juga membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Salah satu empat tiang utama yang ada di masjid diberi nama Sunan Ampel.

Sunan Ampel meninggal diperkirakan pada 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Kelahiran Sunan Ampel

Menurut Encyclopedia Van Nederlandesh Indie diketahui bahwa Campa adalah satu negeri kecil yang terletak di Vietnam, sementara Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.

Sunan Ampel adalah putra Syekh Ibrahim As-Samarqandy yang dimakamkan di Tuban. Ibrahhim Asmarakandi merupakan putrah Syekh Jumadil Kubro.

Walau demikian, terdapat pula sebagian riwayat yang menyatakan bahwa Sunan Ampel merupakan anak dariMaulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati).

Dalam catatan Kronik Tiongkok dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Tionghoa di Champa oleh Sam Po Bo.

Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Tionghoa di Tuban.

Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Tionghoa di Jiaotung (Bangil).

Namun, catatan Kronik Tiongkok dari Klenteng Sam Po Kong ini diragukan kebenarannya karena merupakan propaganda Belanda untuk mengaburkan sejarah Indonesia.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi).

Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai.

Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII).

Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai.

Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga.
Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai.

Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali.

Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri.

Kelak ketika terjadi huru-hara di ibu kota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut.

Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu.

Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.

Silsilah

Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ali Rahmatullah bin Maulana Malik Ibrahim / Syekh Ibrahim As-Samarqandy bin Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar al-Husaini bin Ahmad Jalaluddin Syah bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut) Ali Kholi’ Qosam bin Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi’ah bin Alawi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra binti Muhammad

Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

Keturunan
Isteri Pertama, yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:

Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang

Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat

Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran

Siti Muthmainnah

Siti Hafsah

Isteri Kedua adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:

Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri

Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fatah

Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)

Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)

Pangeran Tumapel

Raden Faqih (Sunan Ampel 2)

Sejarah dakwah (kisah para wali di tanah Jawa)

Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.

Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat.

Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.

Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu:

Putri Nyai Ageng Maloka,

Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang),

Syarifuddin (Sunan Drajat)

Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.

Makam Sunan Ampel di Surabaya

Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.

Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. (sumber : wikipedia/kompas.com)