Jateng Today
Tiga Bank Syariah BUMN Dimerger Jadi Bank Amanah

Tiga Bank Syariah BUMN Dimerger Jadi Bank Amanah

JATENGSATU.COM — Tiga bank BRI Syariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Mandiri Syariah akhirnya dimerger. Kementerian BUMN telah menggabungkan bank syariah entitas anak bank pelat merah tersebut.

Tiga bank syariah milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap merger. Kabarnya, entitas barunya akan disebut Bank Amanah.

Acara penandatanganan dihadiri oleh Wakil Direktur PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Hery Gunardi sekaligus Ketua Tim Project Management Office, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Haru Koesmahargyo, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Sis Apik Wijayantodan Dtrektur Utama PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) Ngatari.

Merujuk laporan keuangan BRI Syariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Mandiri Syariah, dan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), aksi konsolidasi ini bakal makin menguatkan dominasi bank syariah pelat merah terhadap pangsa pasar perbankan syariah.

Sampai akhir Juni 2020, Mandiri Syariah memiliki aset Rp 114,40 triliun, BNI Syariah senilai Rp 50,76 triliun, BRI Syariah sebanyak Rp 31,08 triliun, dan UUS BTN sebesar Rp 31,08 triliun.

Ini membuat total aset bank hasil merger akan mencapai Rp 245,83 triliun. Nilai tersebut pun setara 46,46% dari total aset perbankan syariah, termasuk UUS yang senilai Rp 529,06 triliun.

Sedangkan dari segi pembiayaan, jika digabungkan nilainya mencapai Rp 168,54 triliun, atau setara 45,54% dari total pembiayaan perbankan syariah senilai Rp 370,04 triliun.

Bank Mandiri Syariah berkontribusi paling besar dengan nilai Rp 75,61 triliun. Disusul BRI Syariah Rp 37,43 triliun, BNI Syariah Rp 31,63 triliun, dan UUS BTN Rp 23,87 triliun.

Sementara dari segi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) empat entitas tersebut tercatat menghimpun DPK senilai Rp 204,82 triliun atau setara 48,98% dari total perbankan syariah senilai Rp 418,15 triliun.

Mandiri Syariah kembali punya kontribusi paling besar senilai Rp 101,76 triliun. Diikuti BNI Syariah Rp 43,64 triliun, kemudian BRI Syariah Rp 38,59 triliun, dan UUS BTN Rp 20,80 triliun.

Tiga bank syariah BUMN yang akan dimerger yakni PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri, sementara milik PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih berupa Unit Usaha Syariah (UUS).

Sumber CNBC Indonesia menyebutkan setelah nota tersebut ditandatangani maka proses penggabungan ini akan segera dimulai.

“MoU [memorandum of understanding] diteken, ketiga bank syariah tersebut nantinya akan menjalani proses penggabungan,” ungkap sumber CNBC Indonesia yang mengetahui penandatanganan MoU tersebut, Senin malam (12/10/2020).

Acara MoU sore nanti akan dihadiri Ketua Tim Project Management Office & Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Hery Gunardi, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Haru Koesmahargyo, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Sis Apik Wijayanto dan Direktur Utama PT Bank BRIsyariah Ngatari.

Erick Thohir

Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir memandang upaya pemerintah untuk menggabungkan bank-bank syariah nasional, yakni Bank BRI Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan Bank BNI Syariah, akan mewujudkan mimpi Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Merger bank syariah BUMN tersebut secara resmi bakal diumumkan hari ini, Selasa, 13 Oktober 2020.

“Langkah ini adalah tonggak sejarah untuk kita semua, tonggak pertama menggabungkan bank-bank syariah nasional,” ujar Erick dalam sebuah tayangan video yang dibagikan pada Selasa, 13 Oktober 2020.

Hasil merger ketiga bank syariah pelat merah akan menghasilkan total aset sebesar Rp 245,87 triliun. Aset itu berasal dari Bank Mandiri Syariah sebesar Rp 114,4 triliun; Bank BNI Syariah Rp 50,78 triliun; dan Bank BRI Syariah Rp 49,6 triliun. Aset tersebut merupakan aset yang tercatat di masing-masing bank pada kuartal II 2020.

Erick mengatakan langkah melakukan merger merupakan inisiatif pemerintah. Sebab sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, Indonesia sudah sepantasnya memiliki bank syariah terbesar di dunia.

Karena itu, kata Erick, sejumlah pihak harus bahu-membahu dan tolong-menolong atau ta’awun. Melalui penandatanganan kondisional merger agreement, ia meyakini negara akan mewujudkan mimpi tersebut.

Erick juga berharap menguatnya fungsi bank syariah akan mendekatkan tujuan ekonomi syariah Indonesia yang mengutamakan keadilan bagi semua umat. “Langkah ini menjadi panggilan untuk menegakkan ekonomi syariah dan memakmurkan masyarakat serta membuka kesempatan lebih luas dan berguna sebanyak-banyaknya bagi orang lain,” ucapnya.

Selain itu, Erick pun menilai penguatan bank syariah akan mendorong perusahaan yang bergerak di sektor keuangan ini mampu bertahan dari krisis pandemi corona. Dengan langkah ini, ia yakin kinerja bank syariah akan menorehkan kinerja positif. “Kita masih tertinggal dengan negara Islam lainnya, kita harus bangkit,” ucapnya.

Selanjutnya, Erick mengajak semua pihak bekerja berlandaskan “akhlak” untuk mewujudkan pilar kekuatan baru ekonomi nasional. Akhlak adalah akronomi dari amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.
Sumber : kontan, detik dan tempo